Monday, June 29, 2009

Penilaian Vocabulary

Pembelajaran bahasa melibatkan keterampilan bahasa (skills) yakni listening, speaking, reading, and writing dan unsur-unsur bahasa (sub-skills) yang terdiri dari vocabulary, grammar, dan pronunciation. Masing-masing sub-skill mempunyai karakteristik tersendiri untuk mengevaluasinya, termasuk evaluasi penguasaan vocabulary. Tentu saja, tes sub-keterampilan bahasa seperti vocabulary tidak menunjukkan secara tepat seberapa baik seseorang ‘menggunakan’ bahasa, tetapi tes tersebut dapat membantu guru mendiagnosa kekuatan dan kelemahan siswa dalam komunikasi baik lisan maupun tulis. Disamping itu, hasil dari tes vocabulary dapat memberi penekanan pada materi mana yang memerlukan perhatian khusus didalam kelas.

Tujuan Penilaian Vocabulary

Penilaian vocabulary bertujuan untuk mengukur pemahaman dan produksi kata yang digunakan dalam penguasaan keterampilan berbahasa yakni speaking dan writing. Setelah membahas kata ‘apa’ yang akan di nilai, selanjutnya akan kita bahas ‘bagaimana’ mengevaluasi penguasaan vocabulary.

Jenis-jenis Penilaian Vocabulary

a. Limited Response (Respon terbatas)
Tes ini biasanya digunakan untuk para beginners dimana tes ini membutuhkan aksi fisik yang sederhana seperti menunjuk pada suatu benda atau dengan menjawab sangat sederhana seperti ‘yes’ atau ‘no’. Juga bisa dipakai dengan mengerjakan suatu perintah sederhana, seperti "Raise your hand, etc."

b. Multiple-choice Completion (Melengkapi pilihan ganda)
Tes ini dilaksanakan dengan cara menyajikan kalimat dimana ada kata-kata yang dihilangkan, dan siswa memilih satu jawaban benar dari empat opsi yang diberikan untuk melengkapi kalimat.

c. Multiple-choice Paraphrase (Paraphrase pilihan ganda)
Tes ini menyajikan kalimat dengan satu kata yang digarisbawahi. Siswa memilih satu jawaban benar dari empat opsi yang mempunyai makna paling mendekati dengan kata yang digarisbawahi.

d. Simple-completion Words (Melengkapi kalimat sederhana),
Tes ini menyuruh siswa menulis bagian kata yang hilang yang terdapat dalam kalimat.

Bagaimanapun, perlu dipahami bahwa penilaian vocabulary dengan hanya memilih kata-kata sulit atau menyajikan daftar kata acak secara sederhana tidak akan memberikan makna. Akan lebih baik apabila kita berusaha untuk menemukan kata yang diperlukan oleh siswa untuk diketahui. Dalam kasus seperti ini, kurikulum 1984 menyajikan daftar kosakata yang harus dikuasai siswa. Dengan penguasaan kosakata pada tingkat tertentu diharapkan siswa mampu melakukan komunikasi dengan baik.

Memutuskan bagaimana memberikan penilaian vocabulary sangat berhubungan dengan bagaimana kita mengajarkannya. Sebagian besar guru bahasa Inggris tidak menghendaki pada siswanya untuk mengingat sekian ratus atau sekian ribu kata. Sebaliknya, mereka mengajar siswa untuk menemukan makna setiap kata melalui konteks kalimat, dan mereka membantu meningkatkan pemahaman dengan beberapa cara seperti mengajarkan imbuhan penting (happy – unhappy / beautiful – beauty). Dalam penilaian vocabulary, guru juga dapat menghindari munculnya kata secara terpisah (in isolation).


Untuk mengetahui tingkat penguasaan vocabulary, guru dapat menyesuaikan materi agar cocok dengan penekanan pada keterampilan lisan dan tulis. Misalnya untuk meningkatkan keterampilan percakapan dasar maka guru dapat menilai vocabulary dengan menggunakan panduan lisan.

Contoh:
“What time is it?” dengan menuntut jawaban lisan (“It’s nine o’clock”).

Dilain pihak, apabila pembelajaran vocabulary lebih ditekankan pada reading maka guru dapat memberikan format pilihan ganda tertulis.


Contoh:
“He bought a cake at a….
A. bank B. bakery C. hardware store D. book store”

Selain itu, penilaian vocabulary dengan cara informal juga perlu dilaksanakan karena sangat berguna dalam mengukur keterampilan berbahasa. Salah satu contoh dari model penilaian ini adalah dengan memberi pekerjaan rumah atau memberi latihan dikelas. Kegiatan yang dilaksanakan bisa dengan memasukkan kegiatan game-type seperti teka-teki silang (crossword puzzle) dan “Twenty Questions.”

Dalam bermain “Twenty Questions,” siswa mencoba mengidentifikasi sebuah objek dengan bertanya yes-no question. Untuk memenangkan, mereka harus mengidentifikasinya dalam 20 kali tebakan. (“Students, something from my desk is in the box. Ask me what it is. I will answer only yes or no.” / “Is it your ruler?” … ). Dengan melakukan variasi kegiatan berbentuk game-type maka kecemasan siswa dalam menghadapi tes dapat dikurangi.

No comments:

Post a Comment